Halo Takita yang cantik,
Assalamualaikum..
Dik Takita, perkenalkan saya Bunda Destri...Siang ini saya baru menemukan surat dari Takita. Dan saya senang sekali, karena kita punya kesamaan keinginan, yaitu agar keluarga-keluarga di Indonesia ini tumbuh dalam kehangatan dan cinta kasih melalui sarana bercerita, dimulai dari keluarga kita sendiri.
Bunda jadi ingin bercerita tentang keluarga bunda. Bunda punya 4 anak dik Takita; Asma Izzatunnisa, Sulthan Muhammad Al Fatih dan duo kembar "Hasnain"; Khalifi Hasnain Azzamy dan Musyaffa Hasnain Al Farisy. Semua masih balita, Takita. Yang tertua Asma baru berusia 4 tahun, Sulthan 3 Tahun dan Duo Hasnain saat ini tepat 8 bulan. Merawat dan mendidik 4 balita sesungguhnya bukan hal mudah dik Takita, repotnya minta ampun, tapi bunda bersyukur dan bahagia, ke 4 anak bunda adalah karunia terbesar dalam hidup bunda. Memiliki mereka adalah kebanggaan terbesar, yang bunda harap bisa bunda banggakan dihadapan Allah SWT di akhirat nanti karena bunda berhasil mendidik mereka menjadi orang yang sukses tidak hanya didunia, tapi terutama sekali diakhirat.
Dik, membaca koran dan menonton berita di TV, bunda jadi paranoid loh. Bunda ngeri sekali membayangkan betapa suramnya lingkungan yang mengelilingi anak-anak saya nantinya saat mereka remaja. Tawuran, pemalakan, tindak kekerasan dan pelecehan (bully) belum lagi ancaman Narkoba, pergaulan bebas, penyakit menular...aaah dik, seandainya bisa rasanya saya tak ingin mengeluarkan anak-anak saya dari rumah. Tapi kan ga mungkin begitu ya...yang harus saya pikirkan sejak sekarang, imunitas apa yang bisa saya tanamkan pada diri anak-anak saya sehingga mereka akan aman diluar rumah saat sudah waktunya nanti mereka saya lepaskan seperti burung yang siap terbang dan imunitas itu asalnya dari rumah, dari tangan ayah bundanya sendiri. Saya ingin membekali anak-anak dengan keyakinan agama yang kuat dan akhlak (prilaku) yang baik terhadap sesama, saya ingin mereka mendapatkan pendidikan itu dari saya, sekolah pertama mereka. Bukan dari sekolah manapun yang mahal dan elit, apalagi yang murah dan tidak bonafit. Saya tidak akan menyerahkan pendidikan agama dan pembentukan karakter anak-anak saya ke sekolah, karena memang bukan itu fungsi sekolah. Dan tentulah dalam mendidik anak-anak disekolah pertama mereka ini, kedekatan lahir dan batin menjadi kunci sukses yang sayangnya mungkin tidak mudah karena bunda masih punya bayi kembar yang memang membutuhkan perhatian ekstra..tapi bunda yakin bisa dik, tentu saja dengan bercerita. Saat pulang sekolah, bunda sering meminta anak pertama bunda Asma untuk bercerita, kadang bunda yang bercerita. Kalau Asma bercerita kami mendengarkan dan menyimak..kadang ia menambahkan imajinasinya dalam cerita, meski terdengar ceritanya ngalur ngidur, saya biarkan saja, saya malah senang, tandanya anak saya sudah bisa berimajinasi dan tentu saya harap kreativitasnya semakin berkembang. Saat bunda bercerita, kadang bunda bercerita tentang bunda sendiri, kadang bunda ambil tokoh fiksi dengan jalan cerita yang bunda karang sendiri dan bunda sisipkan nilai-nilai moral atau pesan -pesan yang bunda harapkan tumbuh dalam diri anak-anak saya.
Dik, sekian dulu ya...nanti kapan-kapan bunda sambung lagi ...yang jelas bunda #dukungtakita,,semoga anak-anak Indonsia menjadi insan-insan yg cerdas intelegensianya, dan hangat pergaulannya, semua dimulai tumbuh dari ruangan-ruangan dalam rumah mereka
Salam sayang
Bunda Destri,
Ps: saya lampirkan juga surat Takita
http://blog.indonesiabercerita.org/takita/surat-dari-takita-mimpi-mimpi-takita/
Rabu, 03 Oktober 2012
Rabu, 29 Agustus 2012
Spontan Pulkam Season 2 (dan sepertinya belum Finalle)
Hyaaaaa.....kejadian lagih!!! Mendadak pulang kampung...Kali ini edisi khusus, taraaaaa... MUDIK LEBARAN. Kebayang kan kalo mudik saat Lebaran itu seperti apa...jutaan mobil yang bikin macet Jakarta tiba-tiba secara berjamaah pindah ke jalur-jalur Pantura, Selatan dan sekitar itu. Perjalanan yang normalnya sekian jam, bisa dipastikan akan molor entah berapa jam (atau hari) kemudian. Sejak awal menikah 5 Tahun lalu, sekalipun aku belum pernah mudik menjelang Lebaran. Setelah Shalat Ied pernah satu kali Lebaran pertama bersama suami tercinta. Aku sedang mengandung Asma diusia 4 bulan kehamilan. Selebihnya, sebulan-duabulan setelah Lebaran, saat Iedul Adha, atau tidak mudik sama sekali dalam rangka Lebaran. Tahun inipun Saya dan suami tidak bermaksud mudik saat Lebaran. Terbayang macetnyaaaa....membawa sikembaaaaar....ooooh tak mungkin aku mau! Tapi semakin mendekati hari-hari akhir Ramadhan, suami sudah kasak-kusuk sendiri..(sudah rindu kampung rupanya)..."mmmm, kalau mudik kira-kira bawa uang berapa ya???", "duh...suasananya mengingatkan pada perjalanan mudik nih"..celetukan-celetukan semacam itu semakin sering terdengar...kadang aku pura-pura cuek hehhehe, sampai akhirnya 3 hari menjelang Iedul Fitri(16 /08), kami mengadakan bukber untuk keluarga besar kami. Obral-obrol sana sini, akhirnya tercapai suatu kesepakatan mufakat "besok mudik, paling lambat jalan setelah Jumatan"...malam itu kakak-kakak ipar yang rencananya menginap dirumah kami, bubar jalan kerumah masing-masing mempersiapkan segala sesuatunya. 3 orang ponakan tinggal dirumah kami agar besoknya tinggal diangkut, dan aku seperti biasa termangu sejenak, memikirkan cucian kotor akibat kemalasanku, persiapan pakaian anak-anak terutama duo Hasnain yang baru berusia 6 bulan. Sungguh aku tak keberatan, memang ada sedikit rasa malas menjalani kemacetan yang tak bisa diprediksi berapa lama, lelahnya perjalanan, uang saku yang cekak dsb tapi pada dasarnya aku sendiri senang jalan, dan travelling bersama duo Hasnain tentu jadi tantangan tersendiri. Okelah waktu termangu habis.....Bungkuuuuus!Plung plung plung! Pakaian asal cemplung (Alhasil setelah dikampung, aku baru sadar, hanya membawa 3 pakaian atasan masing-masing untukku dan suami, padahal pakai koper besar#tepokjidat) yang terpenting adalah perlengkapan sikembar, pakaian, peralatan makan, pospak, perlatan mandi. Kalau bocil lainnya Asma dan Sulthan relatif sudah tidak terlau rumit lagi kebutuhannya. Mereka bisa saling meminjamkan, toh meski Asma anak perempuan, bedanya hanya dijilbab dan sempak, kaos dan celananya biasa tukeran dengan Sulthan.
Entah bagaimana malam dan pagi harinya itu aku siap-siap, yang jelas kami jalan juga akhirnya..meninggalkan rumah kami dengan membawa seisi warung didalam mobil untuk perbekalan (tak lupa dicatat untuk nantinya mengajukan tagihan pada suamiku sebagai penanggung jawab perjalanan ini)
Janjian dengan kakak ipar di Carrefour Lebak Bulus, kami start sekitar pukul 16.30 langsung masuk tol Pondok Indah. Perjalanan berangkat menuju kampung kami jalani 2 hari 2 malam. sempat menginap di masjid di Cicalengka dari jam 23.30 jumat malam hingga subuh dan sampai Gunung Kidul Handayani pukul 02.00 ahad dinihari. Turun bagasi, beres2 tahunya sudah jam 4an, mau tidur nanggung, bisa2 subuhan terlewat..akhirnya aku bertahan sampai terdengar Adzan (untunglah waktu shalat Yogya lebih cepat dari Jakarta), begitu adzn, aku shalat subuh, membangunkan suami ntuk sholat juga kemudian tidur bersama-sama...bless...seeeees.....bangun jam 7.....dadaaaaaah shalat ied.....para supir AKAP (suami dan kakak Ipar) bangun jam 9 saking lelahnya...dan hiruk pikukku di Jakarta bersama Hasnain dan bocil kami sesunggguhnya hanya pindah tempat...
Didesa.....
Cukup menyenangkan...udara bersih..keraifan lokal yng kental, anak-anak bisa bermain bebas dan lebih akrab bersama sepupunya...dan Sulthan seakan menemukan habitatnya disana,,,tanah, pasir, air dan ia seperti ikan yang menemukan kolam, sementara aku seperti memungut anak kucing jalanan setiap sore, dekil, lusuh kotor...yah, biarlah...dengan begitu kreativitasnya berkembang (menghibur diri)
Yang tak pernah tertinggal kalau dikampung: Sate Kambing dan Tongseng pak Yadi, lalu kami menenmukan....(taraaaaa) Alfamart! ditengah perkampungan diatas gunung, dimana pasarnya hari 2 kali seminggu, hari pasaran Wage dan ...hmmmmm aku lupa (bukan seperti Jakarta ya, dimana pasar Jumat, Pasar Senen, Pasar Rebo menunjukkan lokasi, tapi dkampung, hari pasaran ya menandakan waktu pasar dilaksanakan, Pasar Wage>di hari Wage, Pasar Legi >di hari Legi, Pasar Pon>dihari Pon) kok bisa-bisanya ada toko retail....!!! sisi positifnya tentu saja warga terbantu dengan kemudahan akses untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, negatifnya, secara pasti akan mendorong konsumtivitas mereka. Apalagi kalau daya beli mereka lemah...
Tiba Waktu Pulang.....
Antara horeeeeee....dan oh noooooooo.....terbayang kembali kemacetan dan rasa lelah....start dari gunung Kidul jam 9 pagi....kami mampir Pekalongan dan mendadak menginap dirumah salah seorang kerabat, dan dsitu aku mersakan indahnya jalinan kekerabatan...secara personal aku mungkin tidak kenal dengan pemilik rumah...tapi atas nama hubungan persaudaraan, Subhanallah, keluarga mereka ini menjamu kami yang ribut dan ribet dengan anak kecil, balita dan bayi (yang totalnya berjumlah 10 dengan sepupu2 Asma) dengan hangat dan baik....Luar biasa...Disitu aku merasakan sunnah Nabi yaitu memuliakan tamu...semoga tuan rumah yang baik ini mendapat balasan kebaikan dari Allah SWT..
Perjalanan dilanjutkan (dan tulisan dicukupkan...berhubung sdh ngantuk :p ) besok lagi dilanjutkan
Entah bagaimana malam dan pagi harinya itu aku siap-siap, yang jelas kami jalan juga akhirnya..meninggalkan rumah kami dengan membawa seisi warung didalam mobil untuk perbekalan (tak lupa dicatat untuk nantinya mengajukan tagihan pada suamiku sebagai penanggung jawab perjalanan ini)
Janjian dengan kakak ipar di Carrefour Lebak Bulus, kami start sekitar pukul 16.30 langsung masuk tol Pondok Indah. Perjalanan berangkat menuju kampung kami jalani 2 hari 2 malam. sempat menginap di masjid di Cicalengka dari jam 23.30 jumat malam hingga subuh dan sampai Gunung Kidul Handayani pukul 02.00 ahad dinihari. Turun bagasi, beres2 tahunya sudah jam 4an, mau tidur nanggung, bisa2 subuhan terlewat..akhirnya aku bertahan sampai terdengar Adzan (untunglah waktu shalat Yogya lebih cepat dari Jakarta), begitu adzn, aku shalat subuh, membangunkan suami ntuk sholat juga kemudian tidur bersama-sama...bless...seeeees.....bangun jam 7.....dadaaaaaah shalat ied.....para supir AKAP (suami dan kakak Ipar) bangun jam 9 saking lelahnya...dan hiruk pikukku di Jakarta bersama Hasnain dan bocil kami sesunggguhnya hanya pindah tempat...
Didesa.....
Cukup menyenangkan...udara bersih..keraifan lokal yng kental, anak-anak bisa bermain bebas dan lebih akrab bersama sepupunya...dan Sulthan seakan menemukan habitatnya disana,,,tanah, pasir, air dan ia seperti ikan yang menemukan kolam, sementara aku seperti memungut anak kucing jalanan setiap sore, dekil, lusuh kotor...yah, biarlah...dengan begitu kreativitasnya berkembang (menghibur diri)
Yang tak pernah tertinggal kalau dikampung: Sate Kambing dan Tongseng pak Yadi, lalu kami menenmukan....(taraaaaa) Alfamart! ditengah perkampungan diatas gunung, dimana pasarnya hari 2 kali seminggu, hari pasaran Wage dan ...hmmmmm aku lupa (bukan seperti Jakarta ya, dimana pasar Jumat, Pasar Senen, Pasar Rebo menunjukkan lokasi, tapi dkampung, hari pasaran ya menandakan waktu pasar dilaksanakan, Pasar Wage>di hari Wage, Pasar Legi >di hari Legi, Pasar Pon>dihari Pon) kok bisa-bisanya ada toko retail....!!! sisi positifnya tentu saja warga terbantu dengan kemudahan akses untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, negatifnya, secara pasti akan mendorong konsumtivitas mereka. Apalagi kalau daya beli mereka lemah...
Tiba Waktu Pulang.....
Antara horeeeeee....dan oh noooooooo.....terbayang kembali kemacetan dan rasa lelah....start dari gunung Kidul jam 9 pagi....kami mampir Pekalongan dan mendadak menginap dirumah salah seorang kerabat, dan dsitu aku mersakan indahnya jalinan kekerabatan...secara personal aku mungkin tidak kenal dengan pemilik rumah...tapi atas nama hubungan persaudaraan, Subhanallah, keluarga mereka ini menjamu kami yang ribut dan ribet dengan anak kecil, balita dan bayi (yang totalnya berjumlah 10 dengan sepupu2 Asma) dengan hangat dan baik....Luar biasa...Disitu aku merasakan sunnah Nabi yaitu memuliakan tamu...semoga tuan rumah yang baik ini mendapat balasan kebaikan dari Allah SWT..
Perjalanan dilanjutkan (dan tulisan dicukupkan...berhubung sdh ngantuk :p ) besok lagi dilanjutkan
Sabtu, 15 Oktober 2011
Pregnancy Belt
Alhamdulillah...akhirnya dapet juga...lueegaaa...hehehehe sudah bisa terkekeh kembali. Apaan sih?
ini nih...SABUK KEHAMILAN!! #oalaaaah...kirain apaaan...hehe..abis udah berminggu-minggu ini nyari-nyari kaya apaan itu sih? apa bener bisa meringankan beban kehamilan??
Dari dua bulan pertama kehamilan saat saya USG pertama kali dan tahu bahwa saya mengandung janin kembar, Spog dan suster diruang periksa langsung menyarankan "bu,nanti harus cari korset hamil bu...soalnya pasti perutnya besar dan berat" saat itu saya cuma iya-iya aja, abis belum kebayang seperti apa bentuknya. Dan belum tentu juga saya butuh. Dua kehamilan saya yang dulu sih ga pernah pakai. Denger aja baru kali itu. Memasuki bulan ke 4 saat saya periksa lagi, dokter yang belum baca riwayat medis saya kaget lihat perut saya yang seperti sudah usia 6-7 bulan. begitu beliau baca baru dia, "ooooo iya ya...kan kembar ya Des.." saat itu saya langsung menumpahkan seluruh keluhan " duh, dok, pinggang saya pueegel banget. kalo lagi duduk mau berdiri, ampun deh dok. panggul, perut bawah sampai kaki juga sakit terutama paha atas". Kata bu dokter yang baik itu begini, "kamu coba cari korset kehamilan ya..biasanya banyak dijual di toko perlengkapan baby" trus beliau sedikit mendeskripsikan bentuk korset itu. Bentuknya seperti stagen, tapi dibagian perut ada bagian untuk menopang / menyangga perut fungsinya supaya perut ga terlalu "jatuh".
ok-lah...suami juga langsung mengeluarkan surat perintah pembelian, secara dia ga tega liat aku kalo jalan udah kaya Zombie gajah. Kebayang ga sih? bayangin aja zombie berjalan kaya di film "The Walking Dead" cuma bentuknya gajah gitu deh. Lama banget n keliatan ga stabil banget! Aku ga langsung nyari sih, aku pikir masih bisa dikesampingkan ini rasa pegel di pinggang, panggul dan perut serta paha, taunya makin kesini makin berasa ga beres, malah jadinya kaku semua. Ya sudahlah coba cari-cari. ke toko perlengkapan bayi " T*sya" yang di Cirendeu, kosong. trus di Ciputat juga kosong.malah sama Pramuniaganya hampir salah dikasih gurita-buat yang belum tahu, itu sejenis kain bertali-tali yang fungsinya bikin perut singset lagi setelah melahirkan. Emang gurita ini bentuknya ga seperti gurita yang biasa. Entah model baru atau gimana tapi tulisannya jelas-jelas "Gurita Modern Pasca Melahirkan" tuh mbak masih maksa juga kalo ini barang yang aq cari. Meski belom tahu bentuknya kaya apa, aku juga bisa baca dong mb PASCA MELAHIRKAN. Yang aku carikan during pregnancy alias selama kehamilan. Maaf ya mb, bukan ini yang saya cari. Sempet ke Pasar Ciputat, ga ada juga n aq udah males keluar masuk toko or pasar. Ga ada tenaga n ga ada waktu. Aku udah browsing2 n udah ada sih yang kayanya pas seperti yang aq cari. cuma masalahnya kalo via internet kan ga bisa megang bahan. Ga ketahuan bahannya adem apa ga, bikin gatel apa ngga, lentur apa ngga, jangan sampe sekarang muat besok sesak dipake, secara perutnya kan berkembang. Berhubung pencarian offline tidak membuahkan hasil akhirnya coba deh yg online. Berbagai googling hasilnya satu merk yang menurutku meyakinkan. New Life, kelihatannya pengelola butik online-nya juga cukup meyakinkan, ya udah aq coba order. Alhamdulillah lancar, n cepet juga. estimasi pengiriman 3 hari, ternyata dalam waktu 24 jam udah sampe ditangan. Langsung aq coba, bahannya enak, dan ga bikin gatel dikulit dan ternyata emang bisa menopang perut loh. jadi ga "jatuh" banget or berat. aq juga sedikit lebih gesit. Sebelumnya kalo dari tidur mau bangun, paling ngga harus ada 3 atau 4 gerakan pendahuluan supaya bisa dalam posisi duduk. Udah gitu berdirinya dibantuin pula pake nyeri di otot paha. Sehari ini saat uji coba, nyeri di paha sudah berkurang. Alhamdulillah...semoga bisa bermanfaat terutama untuk menunjang aktivitas sampai melahirkan nanti.
ini nih...SABUK KEHAMILAN!! #oalaaaah...kirain apaaan...hehe..abis udah berminggu-minggu ini nyari-nyari kaya apaan itu sih? apa bener bisa meringankan beban kehamilan??
Dari dua bulan pertama kehamilan saat saya USG pertama kali dan tahu bahwa saya mengandung janin kembar, Spog dan suster diruang periksa langsung menyarankan "bu,nanti harus cari korset hamil bu...soalnya pasti perutnya besar dan berat" saat itu saya cuma iya-iya aja, abis belum kebayang seperti apa bentuknya. Dan belum tentu juga saya butuh. Dua kehamilan saya yang dulu sih ga pernah pakai. Denger aja baru kali itu. Memasuki bulan ke 4 saat saya periksa lagi, dokter yang belum baca riwayat medis saya kaget lihat perut saya yang seperti sudah usia 6-7 bulan. begitu beliau baca baru dia, "ooooo iya ya...kan kembar ya Des.." saat itu saya langsung menumpahkan seluruh keluhan " duh, dok, pinggang saya pueegel banget. kalo lagi duduk mau berdiri, ampun deh dok. panggul, perut bawah sampai kaki juga sakit terutama paha atas". Kata bu dokter yang baik itu begini, "kamu coba cari korset kehamilan ya..biasanya banyak dijual di toko perlengkapan baby" trus beliau sedikit mendeskripsikan bentuk korset itu. Bentuknya seperti stagen, tapi dibagian perut ada bagian untuk menopang / menyangga perut fungsinya supaya perut ga terlalu "jatuh".
![]() |
| *jangan bayangin ini perut saya ya...ini murni foto dari kardus kemasannya* |
Minggu, 09 Oktober 2011
hamil? takuuuuuuuut....!!
Ada beberapa teman, ataupun kenalan yang reaksinya bikin aku geli kalau aku godain supaya punya anak lagi. Biasanya mereka langsung bilang “hhhh…ngga deh…” sambil angkat tangan, atau mengernyitkan dahi sambil memperagakan gaya “merinding” seolah-olah bayangan untuk hamil dan punya anak lagi menimbulkan kesan super duper menyeramkan. Alasan bergidiknya mereka, biasanya; males/takut repot ngurus bayi, ga kebayang biayainnya karena segala sesuatu yang berhubungan dengan kata anak biasanya diikuti nilai yang serba mahal seperti kebutuhan harian (susu, pakaian, jajanan), kesehatan, dan terutama biaya pendidikan
Ya..memang cara pandang setiap orang tentu berbeda sesuai dengan kebutuhan keluarga yang berbeda-beda. Tapi, kadang aku ingin bilang, please deh…Ga segitunya kaliiii….reaksinya jangan gitu dong…seakan-akan “anak” adalah momok yang mengerikan, cukuplah dengan bilang “nanti dulu deh…tunggu si kakak sudah agak besar, misal SMA ” or apalah tanpa perlu menampilkan kesan yang ogah banget-banget-banget!!
Mungkin karena aku secara pribadi suka dengan sosok anak-anak kali ya, jadi kalau mereka ditampilkan dengan kesan sebagai makhluk tertolak yang bikin repot dan menguras biaya kayanya kesiaaaaaan banget…huhuhu…
Memang, kadang ada sebagian anak yang polahnya bikin hati orangtuanya empet, kadang ada anak dengan kebutuhan khusus yang membutuhkan biaya dan perhatian besar..dan memang, punya anak pasti menimbulkan konsekuensi tenaga, pikiran dan tentu saja biaya yang besar. But friends, yang memberi kita anak itu Allah loh….dan Allah juga yang memiliki langit, bumi dan segala isinya. Tidak lupa juga, Allah juga yang mampu memudahkan kita dalam mengurus dan mendidik anak-anak. Jadi, untuk aku sendiri, jangan sampai menolak rizki yang akan Allah berikan pada kita seiring dengan anak yang Ia anugrahkan. Boro-boro menggugurkan janin yang sudah terlanjur ada, sebatas niat (yang teraplikasikan dalam bentuk reaksi spontan saat disebut kata “HAMIL LAGI”) juga jangan ya…Bisa jadi, bersamaan dengan kehadiran sang anak, Allah bukakan pintu rizki yang berbeda dari yang telah Ia berikan. Allah tambahkan, lipat gandakan sesuai kebutuhan yang kita perlukan untuk merawat, mendidik dan mengurus amanah yang telah Ia percayakan, dan tentu aja sesuai juga dengan ikhtiar kita dalam menjemput pintu rizki tersebut.
Alhamdulillah saat ini aku tengah mengandung lagi, InsyaAllah anak ke tiga dan keempat. Aku membuat tulisan ini, karena ada sebagian orang terdekatku yang memberikan reaksi yang tidak kuharapkan saat kuberitahu aku hamil. Salah satu reaksinya begini, “Loh…katanya KB…!” dengan nada yang tidak gembira dan cenderung menyalahkan. Begitu juga saat suami memberitahu bahwa anak yang kukandung kembar, reaksinya sama plek : “ katanya KB…!” dengan nada yang sama saat aku yang memberitahu. Menurutku itu ungkapan halus dari “ Gimana sih! Kok malah hamil lagi!!Ga cukup apa punya anak 2!!” – aku memang KB-merencanakan kehamilan hingga anakku yang kedua sudah cukup besar untuk punya adik, tapi aku ga punya rencana untuk membatasi ataupun menolak kehamilan. Ya, selama aku masih mampu ya jalanin saja.
Sedih rasanya, karena beliau adalah salah satu orang terdekat dalam lingkaran keluarga kecilku, yang kuharapkan bisa ikut berbahagia untukku dan suami. Aku ga mengharapkan anakku diurus olehnya, atau dibiayai olehnya, cukuplah aku mendengar ungkapan syukur semacam “Alhamdulillah…” walau sekedar basa-basi, paling tidak itu menentramkan dan memberi semacam dukungan moril dalam menjalani kehamilan kembar ini. Bahkan hingga sekarang aku belum melihat ekspresi “ikut senang” dari beliau. Akhirnya kembali lagi harus kusadari dan kuterima bahwa cara pandang kami tentang anak memang beda.
Paling tidak yang bisa aku (dan suami) tunjukkan padanya bahwa mengandung lagi bukan dan tak akan pernah menjadi beban, InsyaAllah akan kujalani dengan ikhlas, dan InsyaAllah akan kami buktikan bahwa kami akan mempu merawat dan mendidik anak-anak meskipun orang lain memberi stempel “Cari Repot Sendiri”
Sabtu, 24 September 2011
kemana lagi harus ku cari bahagia itu, saat kandas ditengah harapan..rasanya lelah hati ini#keluhkesah.com
Ada kalanya sesaat kita baru bercanda tawa, merasa diri paling bahagia, kemudian sesaat kemudian rasa itu dihempaskan dari tempat yang tinggi hingga hancur berkeping-keping tanpa sisa. Semua harapan, cita dan cinta ikut kandas berganti kebencian yang mendalam. Hingga kapan larut dalam kebencian ini, yang begitu menyiksa, tapi entah kenapa, cukup kunikmati. Mungkin karena rasa benci ini saja yang tersisa dari semua. Maka kunikmati saja saja rasa benci ini, berharap ku akan lelah sendiri dan melupakan
Ada kalanya sesaat kita baru bercanda tawa, merasa diri paling bahagia, kemudian sesaat kemudian rasa itu dihempaskan dari tempat yang tinggi hingga hancur berkeping-keping tanpa sisa. Semua harapan, cita dan cinta ikut kandas berganti kebencian yang mendalam. Hingga kapan larut dalam kebencian ini, yang begitu menyiksa, tapi entah kenapa, cukup kunikmati. Mungkin karena rasa benci ini saja yang tersisa dari semua. Maka kunikmati saja saja rasa benci ini, berharap ku akan lelah sendiri dan melupakan
Kamis, 22 September 2011
Spontan pulkam
Kadang segala sesuatu tidak selalu harus direncanakan. Menurut Mario Teguh,dalam hubungan pernikahan, sesuatu yang spontan itu diperlukan. Spontan pergi berdua, spontan melewati rute perjalanan kantor yang tak pernah dilewati berdua, spontan bilang "i love u" saat makan bersama diluar. Spontanitas, diperlukan untuk memperbarui hubungan dari rasa jenuh yang mendera. Istilahnya, menambah ruh baru. Bagi keluarga kami sendiri, saat ini kami sedang mencoba melakukan spontanitas itu. Pagi-pagi dua hari yang lalu, saat baru beranjak dari tidur, masih bercanda dengan Asma dan Sulthan yang baru bangun dan bermalas-malasan di pelukan, sang Ayah tiba-tiba mencetuskan ide gila; "Bun, pulang kampung yuk. sekarang!" Spontan aku melihat jam dinding, pukul 8 kurang, meyakinkan diri bahwa ayah benar-benar telah bangun dan sadar sesadar-sadarnya. Pulang kampung, perjalanan jauh ke Yogya, buatku adalah hal yang yang harus dipersiapkan dan direncanakan berhari-hari sebelumnya. Pakaian, perlengkapan anak-anak, uang. Pokoknya bukan sesuatu yang disiapkan dalam waktu satu jam (meski akhirnya kejadian juga). Suami meyakinkan bahwa ini saat yang tepat karena pekan depan sudah agenda lain yang menunggu, bahwa kami bisa, pasti bisa!! tuing...tuing...tuing....aku terbayang-bayang pada cucian yang baru saja ku giling dan belum dijemur, gosokan setinggi gunung Fuji yang belum tersentuh, telur diwarung yang belum habis terjual...bagaimana membereskan semuanya dalam waktu satu jam??? terbayang pula jauhnya perjalanan yang harus kujalani sambil membawa sikembar dalam kandungan...oh....it's mission impossible kaleeee...Tapi bukan suamiku namanya kalo ga berhasil meyakinkan aku. Entah bagaimana GEDUBRAK#GEDUBRAK yang harus aku jalani setelahnya, akhirnya kami lakoni juga perjalanan menuju Yogya, tidak berhasil dalam satu jam, melainkan 3 jam setelahnya (yaiyalaaah....ada bocah-bocah 3&2 tahun yang harus dimandiin, disuapin, dan cucian yang harus dijemur, belom persiapan untuk pulkam termasuk setrikaan karena baju-baju sebagian besar belum digosok...BUNGKUUUUUS)
Membawa serta dalam perjalanan Om Bhismo (adikku) dan Mama (Mbahnya anak-anak) kami melaju kencang dengan siXenia silver. Om Bhismo direncanakan akan menggantikan suami menyetir kalo lelah. Tapi sepertinya suamiku emang udah niat banget mudik dan tumben-tumbenan dia nyetir ga pake istirahat yang lama. Hanya dua kali istirahat di Masjid untuk menunaikan shalat Maghrib-Isya, dan istirahat lagi pada pukul 23.00 selama sejam di Pom Bensin Favorit kami di daerah Kebumen. Setiap kami pulkam pasti selalu mampir k SPBU ini. Secara SPBU ini dilengkapi rest area dipinggir sawah yang oke banget suasananya. Ada gazebo2 dipinggir sawah yg gratis untuk melepas lelah selama perjalanan. Biasanya di gazebo ini kami suka ngeluarin kompor portabel untuk masak2 air bikin kopi or masak mie instan (tenang aja, gazebonya cukup jauh banget dari tempat pengisian bahan bakar, jadi InsyaAllah kegiatan masak-memasaknya aman-aman saja). Kalau sore ada gubuk penjual tempe mendoan,yang memang difasilitasi oleh pengelola SPBUnya, ada restoran, ada mushola yang cukup bersih dan nyaman. Oke banget deh istirahat disini.
Singkat kata, kami sampai diYogya pukul 02.00 dini hari dan langsung cari hotel murah meriah untuk istirahat. Pulang kerumah mbah Kakung dijadwalkan esok pagi. Yang pentng sekarang istirahat dulu (alias suami udah ga kuat lagi kalo harus nyetir mendaki gunung kidul menuju tempat mbah Kung)
Alhamdulillah, acara Spontan Pulang Kampung keluarga kami sejauh ini lancar-lancar saja...
Membawa serta dalam perjalanan Om Bhismo (adikku) dan Mama (Mbahnya anak-anak) kami melaju kencang dengan siXenia silver. Om Bhismo direncanakan akan menggantikan suami menyetir kalo lelah. Tapi sepertinya suamiku emang udah niat banget mudik dan tumben-tumbenan dia nyetir ga pake istirahat yang lama. Hanya dua kali istirahat di Masjid untuk menunaikan shalat Maghrib-Isya, dan istirahat lagi pada pukul 23.00 selama sejam di Pom Bensin Favorit kami di daerah Kebumen. Setiap kami pulkam pasti selalu mampir k SPBU ini. Secara SPBU ini dilengkapi rest area dipinggir sawah yang oke banget suasananya. Ada gazebo2 dipinggir sawah yg gratis untuk melepas lelah selama perjalanan. Biasanya di gazebo ini kami suka ngeluarin kompor portabel untuk masak2 air bikin kopi or masak mie instan (tenang aja, gazebonya cukup jauh banget dari tempat pengisian bahan bakar, jadi InsyaAllah kegiatan masak-memasaknya aman-aman saja). Kalau sore ada gubuk penjual tempe mendoan,yang memang difasilitasi oleh pengelola SPBUnya, ada restoran, ada mushola yang cukup bersih dan nyaman. Oke banget deh istirahat disini.
Singkat kata, kami sampai diYogya pukul 02.00 dini hari dan langsung cari hotel murah meriah untuk istirahat. Pulang kerumah mbah Kakung dijadwalkan esok pagi. Yang pentng sekarang istirahat dulu (alias suami udah ga kuat lagi kalo harus nyetir mendaki gunung kidul menuju tempat mbah Kung)
Alhamdulillah, acara Spontan Pulang Kampung keluarga kami sejauh ini lancar-lancar saja...
Rabu, 11 Mei 2011
merdeka dengan hijabku
So don’t you see?
That I’m truly free
This piece of scarf on me
I wear so proudly
To preserve my dignity...
My modesty
My integrity
So don’t judge me
Open your eyes and see
That I’m truly free
This piece of scarf on me
I wear so proudly
To preserve my dignity...
My modesty
My integrity
So don’t judge me
Open your eyes and see
I’m the one who’s free
For you I sing this song
My sister, may you always be strong
My sister, may you always be strong
~Free by Samy Yusuf~
Sebagian orang mengatakan hijab/jilbab/kerudung adalah bentuk diskriminasi terhadap kaum perempuan, pengekangan, mematikan potensi, malah ada yang bilang mematikan pasaran jodoh segala loh – astaghfirullahal’adziim..semoga Allah SWT menunjukkan jalan pada orang-orang yang berpandangan seperti ini.
Kalau saya, saya bahagia memakai hijab. Saya merasa bebas, lebih bebas dari burung yang terbang dilangit. Saya bangga berhijab.
Seluruh tubuh saya memang tertutup (tentu saja kecuali muka dan telapak tangan ya), tapi hati saya bebas merdeka. Saya tidak perlu khawatir bagaimana tatanan rambut saya kalau tertiup angin. Tidak perlu repot luluran, beli cream pencerah wajah, pemutih kulit ataupun khawatir kulit saya jadi belang-belang terpapar sinar matahari. Sadarkah kalian,wahai saudariku, sudah menjadi korban industri kecantikan dengan memboyong semua cream-cream pemutih itu?? saya bangga dan bahagia tidak menjadi korban mereka-mereka yang menanamkan paradigma melalui iklan-iklan bahwa perempuan cantik adalah mereka yang berkulit putih, berambut lurus, memiliki body yang seperti gitar demi kepentingan industri mereka sendiri. Setiap hari kita dijejali iklan-iklan seperti itu. Membentuk pola pikir bawah sadar kita bahwa perempuan cantik adalah mereka dengan kriteria tersebut diatas
Perintah berhijab untuk kaum muslimah adalah untuk membebaskan dari paradigma-paradigma penilaian keduniawian seperti semacam itu. Islam memerintahkan untuk menilai orang dari “dalamnya” yaitu ketaqwaannya, keimanannya, ahklaqnya. Bukan dari pakaian, penampilan, kulit putihnya, rambutnya yang lurus seperti dicreambath setiap hari, wajahnya yang bebas noda. Rasul memerintahkan untuk mendengar apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan. Islam mementingkan isi, bukan bungkus. Dan saya merasa terbebaskan dengan hijab ini. Bahwa dengan hijab yang saya pakai, saya menuntut meminta orang lain menghargai saya dari apa yang saya pikirkan, saya kemukakan, hasil pekerjaan yang saya lakukan dan saya menolak dinilai apalagi diremehkan hanya karena saya tidak putih, atau karena rambut saya keriting, bahkan karena tubuh saya gendut.
“ Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tapi Ia melihat hati dan amal kalian” H.R Muslim
Kalau kita membuka kembali sejarah para shahabiyah, mereka adalah akhwat-akhwat yang luar biasa. Asma’ binti Abu Bakar misalnya, ia dalam keadaan hamil tua memanjat tebing / bukit tsur untuk mengantarkan bekal pada Rasulullah dan Abu Bakar. Dan jangan dibayangkan bukitnya pendek, rimbun dengan rumput dan pepohonan (emang di Jawa Barat?!) wuih…tinggi banget loh dengan batu-batuan cadas. Asma tanpa takut akan apapun mendaki gunung Tsur tersebut dengan mengikatkan tali dipinggangnya
Ada seorang shahabiyah bernama Nusaibah yang tak gentar turun ke medan jihad. Tak rela Rasulullah dilukai kaum kafir, Nusaibah yang tadinya merawat korban perang, angkat pedang diatas kuda membabat kaum kafir. Hingga akhirnya ia syahid dan langit ikut menghitam karena bayangan para Malaikat yang berduyun-duyun menyambut arwah Nusaibah. Itu baru sedikit kisah para Shahabiyah yang memberi tauladan akan kiprah mereka menjemput ridha Allah SWT. Tidak ada dalam shirah mereka, bahwa hijab menghalangi kiprah mereka. Mencari ilmu, berperang, menjadi perawat, masih banyak sekali kisah shahabiyah yang lain yang bisa menginspirasi (yang akan dibahas dilain artikel). Pada intinya adalah, menjadi muslimah yang taat, yang berhijab, yang berakhlak sama sekali tidak membatasi potensi diri. Kita kaum muslimah bisa mengembangkan potensi apapun selama sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW dan tidak melanggar perintah Allah SWT.
Pada akhirnya tulisan ini hanyalah bentuk keprihatinan melihat saudari-saudariku sibuk mempercantik diri sesuai aturan pakai kemasan kosmetik, hingga melupakan mempercantik diri sesuai aturan Allah SWT, menunda-nunda berhijab, atau berhijab setengah-setengah karena alasan yang lemah. Ya Allah semoga kau beri hidayah bagi saudariku untuk mempercantik dirinya dengan hijab.
Sabtu, 07 Mei 2011
Nikmatnya berhaji (part 1)
Sudah berjalan hampir 6 bulan sejak saya menunaikan ibadah haji. Perjalanan tak disangka bahkan tak terbayangkan sedikitpun oleh saya. Sebuah perjalanan yang selalu saya impikan, khususnya sejak dua tehun terakhir sebelum takdir Allah mengantarkan saya ketanah suci. Teringat awal mula keinginan itu secara khusus saya niatkan. Yaitu suatu sore saat pengajian pekanan ketika Murabbi saya pada saat itu baru pulang umrah. Dengan menggebu, ia menceritakan kisah perjalanannya ke tanah suci. Betapa terharunya memandang ka’bah untuk pertama kalinya dalam hidup.Tanpa sadar, saya ikut meneteskan airmata kerinduan seiring kisah beliau dalam mensyukuri perjalanannya. Kemudian ia berkata, “kita harus meniatkannya. Bahkan meskipun, kita belum mampu berhaji, niat umrah pun harus dilakukan” Saat ia berkata seperti itu, niat haji dalam hati saya lebih menggebu dari yang pernah ada, walaupun entah kapan Allah akan mengantarkan saya kesana. Kebetulan, saat-saat itu adalah masa-masa dimana saya merasa sedang diuji oleh Allah. Dan saya merasa harus mengadukan masalah saya itu kepada Allah. Baik disini, ataupun disana, ditanah suci.Maka Bismillah, saya niatkan, ingin berhaji, ingin memandang ka’bah secara langsung, ingin “curhat” pada Allah ditempat-tempat dimana doa tak tertolak. Itulah niat saya pada saat itu.
Setahun kemudian, mendekati akhir tahun 2009 Masehi, tanpa pernah saya sangka sedikitpun, Ibu saya menawari untuk menemaninya ibadah Haji. Tawaran yang saat itu tidak terlalu saya tanggapi, karena sebagian diri saya merasa perjalanan haji adalah sesuatu yang rasanya masih jauuuuuh terjadi, impossible, masih diawang-awang, ga kebayang wujudnya…Ternyata Ibu serius. Lebih serius lagi saat suami ternyata mengijinkan, meski kami masih punya bayi berusia 6 bulan. Meskipun mengiyakan, diri saya sebenarnya tidak pernah terpikir akan dapat berangkat dalam waktu dekat. Bukannya tak yakin akan kuasa Allah, saya hanya berpikiran bahwa waiting list untuk haji mungkin 10 tahun lamanya, apalagi kami akan berangkat dari Jakarta. Meski begitu, saya nurut saja saat Ibu meminta saya mengurus pendaftaran Haji melalui salah satu travel yang kami percaya, travel yang kebetulan jejaring dari kantor tempat saya bekerja. Proses pendaftaran tidak terlalu ribet, kebetulan juga pegawai Travel amat membantu. Kami mendaftar untuk tiga orang; Saya, Ibu dan Kakak perempuan saya. Setelah mondar mandir sedikit, akhirnya tinggal tunggu pemberitahuan kami dapat no porsi atau tidak dari Departemen Agama yang kata petugas dari travel yang kami pilih, akan dilakukan paling lama 6 bulan dari saat itu.
Setelah itu, masalah haji terlupakan. Sedikit tidak mau berharap, karena meski saya mensyukuri proses yang sedang berjalan, sejujurnya saya masih ragu akan keberangkatan ini. Beranikah saya berpergian jauh tanpa didampingi suami, bagaimana dengan anak kami nanti kalau saya tinggal sementara ia masih menyusu. Banyak dan banyak keraguan yang menyelinap. Hingga saat Ibu saya menelepon di pertengahan bulan Juni tahun berikutnya, mengabarkan keberangkatan kami dengan no porsi sekian-sekian ditahun itu juga, saya hanya terhenyak dan seakan baru diingatkan akan rencana haji. “is it real?!”
Idealnya, saat orang semakin dekat dengan impiannya, ia akan bersemangat, tak sabar menanti, ataupun ekspresi kegembiraan lainnya. Saat itu saya justru malah sebaliknya. Saya merasa semakin mengawang-awang antara impian dengan kenyataan. Berangkat haji ternyata tak semudah yang saya niatkan ketika Allah justru mengabulkan niat itu. Dilema terbesar yang saya rasakan justru dari anak-anak saya yang masih batita, terutama yang paling kecil, yang masih menyusu. Sanggupkah saya meninggalkan mereka. Disaat yang sama saya merasa sebagai orang yang paling tidak bersyukur sedunia. Bagaimana mungkin, saat Allah mengabulkan doamu, justru dirimu malah ragu untuk menerimanya.
Ternyata itulah ujian yang Allah beri seiring dengan nikmat yang Ia hantarkan padaku. Lima bulan setelahnya hingga menjelang keberangkatan merupakan masa-masa yang cukup sulit. Selain masalah anak, ada juga masalah-masalah lain. Seperti biaya misalnya. Saya memang dibayari ONH oleh Ibu saya, Plus pula. Tapi bukan berarti sama sekali bebas biaya. Tidak bisa tidak, ada biaya-biaya lain diluar biaya ONH, seperti pembuatan passport misalnya. Pada masa itu, saya dan suami baru saja resign dari tempat kami bekerja untuk mewujudkan impian kami (yang satu lagi) untuk menjadi pengusaha kecil-kecilan. Otomatis seluruh dana yang kami miliki tersedot untuk modal usaha dan hasilnya pun masih belum stabil. Memandang masa-masa itu dari kacamata terkini saya saat ini, Alhamdulillah Allah memberi ujian itu. Dengan ujian itu, saya selalu diingatkan bahwa perjalanan ini adalah anugrah ditengah masa sulit kami. Maka harus dimanfaatkan sepenuhnya. Jangan sampai kesia-siaan yang kami dapat. Niat harus terus diluruskan. Sabar dan syukur senantiasa diamalkan. Memang perjalanan Haji ini menuntut pengorbanan yang sangat besar (terutama bagi saya saat itu adalah korban perasaan setiap memandang anak-anak saya) tapi bukankah syurga Allah juga harus ditebus dangan harta dan jiwa. Pokoknya saya selalu mengingatkan diri..kuat..kuat …jangan lemah..
Akhirnya hari itu datang juga. Hari yang mungkin paling saya nantikan dalam hidup saya. Hari keberangkatan untuk menjalankan ibadah haji. Hari yang terindah sekaligus hari yang terberat dalam hidup saya. Karena harus meninggalkan suami dan anak-anak. Anak saya yang kedua sudah disapih sejak dua minggu sebelumnya, saat saya manasik. Hari-hari setelahnya adalah hari-hari ia menangis meminta menyusu, dan saya menangis dalam hati karena tak boleh mengabulkannya. Alhamdulillah setelah satu minggu masa rewel, akhirnya terlewati juga masa itu. Anak saya yang pertama, yang cenderung lebih dekat keayahnya, justru jadi sangat sensitive dengan rencana kepergian saya. Diusianya yang 2,5 tahun, ia sudah bisa mengerti saat saudara-saudara atau kerabat sering menyebut “duh, Asma nanti ditinggal bunda ya…” terlalu sering ia mendengar kalimat itu, ia menjadi paham bahwa ia akan ditinggal dan malah susah untuk melepaskan diri dari saya. Ketika saya masuk kedalam bus yang akan membawa kebandara, ia menangis dengan tersedu-sedu. Sungguh, hari itu merupakan momen dimana pengorbanan saya diuji.
![]() |
| mata sembab sudah membayangkan harus meninggalkan keluarga, sementara Asma mendekati detik-detik keberangkatan hanya menunduk sambil berbisik "ama mau itut..ama mau pegi aji.." bersambung |
Jumat, 06 Mei 2011
Rabu, 04 Mei 2011
Selasa, 03 Mei 2011
Nasihat Ayah Pada Putrinya
Saat kami dikendaraan dalam perjalanan bersama Asma (3 th 1 bln), suamiku menyelipkan sebuah nasihat yang berasal dari kekhawatirannya melihat pola gaul anak-anak remaja sekarang. "Asma..asma...jadi perempuan kamu harus seperti durian. Jangan seperti mangga ya..." kata suamiku. Mungkin diperjalanan itu suamiku melihat tukang mangga atau tukang durian maka teringat memberi nasihat itu. Asma cuma mengangguk-angguk, walau yakin banget deh, dia pasti ga ngerti maksudnya. Karena aku sendiri juga ga belum nyambung apa maksud si ayah
"Maksudnya yah?" tanyaku kemudian. "lihat deh buah mangga...sebelum dibeli, dicium-cium dulu..dipegang-pegang dulu disana sini. Kalo ga' cocok, ganti mangga yang lain. cium-cium lagi, pegang-pegang lagi. Coba bandingin dengan buah durian..siapa yang berani cium-cium, pegang-pegang kalau ga mau bibirnya d*w*r !!!"
Oooo..baru nyambung saya...oke deh...good advice...walau...
terlalu cepat ga sih untuk si Asma?
"Maksudnya yah?" tanyaku kemudian. "lihat deh buah mangga...sebelum dibeli, dicium-cium dulu..dipegang-pegang dulu disana sini. Kalo ga' cocok, ganti mangga yang lain. cium-cium lagi, pegang-pegang lagi. Coba bandingin dengan buah durian..siapa yang berani cium-cium, pegang-pegang kalau ga mau bibirnya d*w*r !!!"
Oooo..baru nyambung saya...oke deh...good advice...walau...
terlalu cepat ga sih untuk si Asma?
Sabtu, 09 April 2011
Konsumen Kecilku yang Jujur
Seorang anak tetangga datang ke warung mengadukan uang kembaliannya yg kurang Rp 2000. sy pikir, sy mungkin tak sengaja memberikan uang kembalian yang kurang. Maka sy tambahkan uangnya untuk menggenapi kembaliannya.ekitar 10 menit kemudian dia datang lagi sambil membawa Rp. 2000.katanya, "ga taunya uangnya ada didalam kantong kresek".lalu ia mengembalikan Rp. 2000 itu. padahal meskipun tak dikembalikanpun sy tak tahu dan tak terlalu memikirkan kurangnya kembalian tadi. Apresiasi utk si gadis kecil dan tentunya orangtuanya yg telah mendidiknya menjadi anak yang jujur.Meski nilai uangnya kecil, tapi nilai kejujurannya tak ternilai harganya. semoga sayapun bisa menjalankan usaha dengan jujur dan tentunya bisa mendidik anak-anak untuk senantiasa dalam kejujuran. Aamiin..
Sabtu, 10 Oktober 2009
Lu..pa..Hi..Hi..Hi..
Paling susah jadi orang pelupa…
Udah tau sih, sering baca trik-trik untuk mengantisipasi sifat pelupa yang sudah mendarah daging. Tapi kok, buat aku ga ngepek ya…???
Bayangin aja, hampir tiap hari nih,
- Selalu balik lagi ke rumah karena ada aja yang ketinggalan, entah kuncikah, dompetkah, hapekah, anakkah (lho?..ngga ding, just kidding), tetangga depan rumahku sampai hapal “apalagi yang ketinggalan, des?”
- Udah keluar kantor, menuju ke jemputan tersayang yang menanti didepan kantor, si dia selalu nunjuk kekepala…OIYA! HELM!!, padahal tuh helm selalu ngejogrok manis dibawah mejanya front office, tinggal ambil aja setiap pulang. Dulu, sebelum aku rubah kebiasaanku naruh helm di front office, selalu aku bawa ke ruanganku dilantai 3. Jadilah kalau aku lupa, aku naik turun tangga 3 lantai ngambil helm yang ketinggalan.
- Naruh barang apa gitu ga pada tempatnya. Pampers bekas Asma masih diatas kasur, gelas dilantai, dsb. Kebiasaan ini nih yang bikin aku sering kena jewer suamiku. Auch!
Itu yang rutin, kemarin pas lagi Iedul Fitri parah!Gara-gara baru pertama lebaran sama anak, udah sibuk banget dari subuh nyiap-nyiapin semuanya, mandiin dede, bajunya si dede, baju koko si ayah, sarapan, semua fix. Buru-buru ke lapangan, biar dapet tempat yang pe-we karena shalat bawa bayi berumur 6 bulan. Udah selesai shalat Ied, lagi dengerin ceramah pak Ustadz, eh baru inget… AKU BELUM WUDHU!!!
Hari ini nih, pas mau keluar rumah aku pakai sandal jepit kesayanganku yang setia menemaniku kemana-mana, kemall, ngaji, ngisi liqo, kecuali ke kantor (sempet juga sih pas hamil gede kekantor juga pake sandal jepit, sekarang udah lahir, aku harus tahu diri, pake sepatu yang manis) berhubung sepatuku kemarin kutinggal dirumah mertua. Nanti dirumah mertuaku, aku ganti sepatu, pikirku. Sesampai dirumah mertuaku, aku keasyikan menyapa anakku yang sudah lebih dulu disana, basa-basi sekedarnya dengan orang rumah, lalu nyengklak ke atas motor ojeg pribadiku. Ditengah jalan..”Ayahhh…”jeritku”Bunda belom ganti sepatu!!!masih pake sandal jepit!!!” Hahaha..suamiku cuma tertawa, secara ga mungkin balik lagi. “parah banget sih!!”kata suamiku.
Kalau ini adalah kejadian saat aku dikantor. Ceritanya waktu dzuhur tiba dan kami baru saja selesai makan siang, hendak shalat berjamaah. Kebetulan saat itu hanya aku dan temanku sama-sama perempuan. "mb Destri aja deh yg imamin" kata temenku. Aku sih ok-ok aja...jadilah aku imam shalat dzuhur siang itu. satu rakaat, dua, tiga, empat, salam.."astagfirullah al azhiiim...!"seruku setelah salam terakhir. "Mekar....aku lagi ga sholat!!!" temenku kontan berteriak "haaaaah?!mbak...maksud loe??!" ya...begitulah saudara, temanku akhirnya mengulang kembali shalatnya..#ampuuuun...maaf ya....>_<;
Aku cuma bisa jawab, “lu..pa…hihihi”
Lupa..bikin hidup lebih hidup..(atau berantakan?)..hehehe
Udah tau sih, sering baca trik-trik untuk mengantisipasi sifat pelupa yang sudah mendarah daging. Tapi kok, buat aku ga ngepek ya…???
Bayangin aja, hampir tiap hari nih,
- Selalu balik lagi ke rumah karena ada aja yang ketinggalan, entah kuncikah, dompetkah, hapekah, anakkah (lho?..ngga ding, just kidding), tetangga depan rumahku sampai hapal “apalagi yang ketinggalan, des?”
- Udah keluar kantor, menuju ke jemputan tersayang yang menanti didepan kantor, si dia selalu nunjuk kekepala…OIYA! HELM!!, padahal tuh helm selalu ngejogrok manis dibawah mejanya front office, tinggal ambil aja setiap pulang. Dulu, sebelum aku rubah kebiasaanku naruh helm di front office, selalu aku bawa ke ruanganku dilantai 3. Jadilah kalau aku lupa, aku naik turun tangga 3 lantai ngambil helm yang ketinggalan.
- Naruh barang apa gitu ga pada tempatnya. Pampers bekas Asma masih diatas kasur, gelas dilantai, dsb. Kebiasaan ini nih yang bikin aku sering kena jewer suamiku. Auch!
Itu yang rutin, kemarin pas lagi Iedul Fitri parah!Gara-gara baru pertama lebaran sama anak, udah sibuk banget dari subuh nyiap-nyiapin semuanya, mandiin dede, bajunya si dede, baju koko si ayah, sarapan, semua fix. Buru-buru ke lapangan, biar dapet tempat yang pe-we karena shalat bawa bayi berumur 6 bulan. Udah selesai shalat Ied, lagi dengerin ceramah pak Ustadz, eh baru inget… AKU BELUM WUDHU!!!
Hari ini nih, pas mau keluar rumah aku pakai sandal jepit kesayanganku yang setia menemaniku kemana-mana, kemall, ngaji, ngisi liqo, kecuali ke kantor (sempet juga sih pas hamil gede kekantor juga pake sandal jepit, sekarang udah lahir, aku harus tahu diri, pake sepatu yang manis) berhubung sepatuku kemarin kutinggal dirumah mertua. Nanti dirumah mertuaku, aku ganti sepatu, pikirku. Sesampai dirumah mertuaku, aku keasyikan menyapa anakku yang sudah lebih dulu disana, basa-basi sekedarnya dengan orang rumah, lalu nyengklak ke atas motor ojeg pribadiku. Ditengah jalan..”Ayahhh…”jeritku”Bunda belom ganti sepatu!!!masih pake sandal jepit!!!” Hahaha..suamiku cuma tertawa, secara ga mungkin balik lagi. “parah banget sih!!”kata suamiku.
Kalau ini adalah kejadian saat aku dikantor. Ceritanya waktu dzuhur tiba dan kami baru saja selesai makan siang, hendak shalat berjamaah. Kebetulan saat itu hanya aku dan temanku sama-sama perempuan. "mb Destri aja deh yg imamin" kata temenku. Aku sih ok-ok aja...jadilah aku imam shalat dzuhur siang itu. satu rakaat, dua, tiga, empat, salam.."astagfirullah al azhiiim...!"seruku setelah salam terakhir. "Mekar....aku lagi ga sholat!!!" temenku kontan berteriak "haaaaah?!mbak...maksud loe??!" ya...begitulah saudara, temanku akhirnya mengulang kembali shalatnya..#ampuuuun...maaf ya....>_<;
Aku cuma bisa jawab, “lu..pa…hihihi”
Lupa..bikin hidup lebih hidup..(atau berantakan?)..hehehe
Jumat, 09 Oktober 2009
sudah jatuh, tertimpa tangga, digigit anjing, ditendang orang, terserempet motor lalu ditabrak truk
Pernah merasa seperti sudah jatuh, tertimpa tangga, digigit anjing,ditendang orang, terserempet motor lalu ditabrak truk? Rasanya seperti sudah end of the world saja. Hal tak enak, masalah, musibah, sakit, datang beruntun seakan-akan menyerbu dari semua arah dan tak habis-habis. Belum selesai yang ini, sudah datang masalah yang lain. Hampir sebulan ini hal itulah yang kurasakan. Sakit, kemudian masalah keluarga, lalu anakku gagal ASI Eksklusif, amanah dakwah yang terbengkalai, pekerjaan kantor yang tiba-tiba menumpuk, khodimat yang bermasalah sehingga harus kupulangkan-imbasnya pekerjaan rumah yang harus kutangani sendiri sambil merawat bayi dan bekerja, lalu sakit lagi. Hhhhh….seakan-akan tenaga, pikiran dan airmataku terkuras habis. Sampai pada titik terlemahku, aku kembali pada Allah. Bermuhasabah. Pasti ada sebabnya kenapa Allah memberikan semua ini. Memang begitulah manusia. Saat ia senang, saat diatas, ia lupakan TuhanNya. Saat ia lemah, saat ia butuh, baru ia menoleh kembali padaNya.
Memang ada saat-saat sebelum semua ini terjadi, aku seakan-akan melupakan nikmat yang Allah berikan padaku. Indikasinya jelas, ibadahku menurun. Secara kualitas maupun kuantitas. Shalat Sunnah Rawatib sudah jarang sekali kulakukan. Dulu saat hamil, alasannya berat, payah. Untuk shalat wajib saja aku sudah terengah-engah. Lalu kini, setelah Allah anugrahkan padaku karunia amat besar bernama Asma Izzatunnisa, masih ada lagi alasannya. Tak sempat, sibuk, tak ada waktu, selesai shalat wajib sudah harus kembali beraktivitas, atau baru selesai salam Asma menangis minta susu. Tilawah, turun drastis. Benar-benar payah. Aku punya prinsip Allah senang kontinyuitas. Sedikit tak apa asal rutin. Lha sekarang, sudah sedikit tak rutin pula. bolong-bolong. Target 1 juz sehari hanya angan2, terbang dibuai kesibukan semu. Shalat dhuha, puasa sunnah. sama saja pontennya, merah. shalat malam, masih lumayan karena Asma sering bangun tengah malam hingga dini hari. Hapalan Al Quran…hmmm ini lagi. Menghapal iya, tapi kemudian berceceran kembali dijalan dakwah. Hilang. Belum lagi amanahku membina anak-anak keputrian disebuah sekolah. Sempat terlintas rasa lelah, ingin melepas mereka agar dipegang oleh akhwat lain. Kesibukanku mengurus bayi dan waktu yang tak termanage dengan baik telah menjadi fitnah. Alhasil hampir sebulan tidak ada pertemuan.
Aku tak layak menggugat Allah yang memberikan banyak ujian padaku. Bahkan tak layak bertanya “kenapa ini terjadi padaku?” Aku memang layak menerimanya. Dan Allah memang Maha Pengasih dan Penyayang. Sehabis ia tunjukkan kesalahanku, ia besarkan hatiku kembali. Tak lama setelah masa-masa “meratap kenapa semua ini terjadi”, aku mengaji pekanan seperti biasa. Ketika mengaji, ustadzahku baru saja mengikuti ceramah yang diisi oleh seorang ustadz dari Timur Tengah. Ummiku mentransfer materi yang ia dapat pada kami. Subhanallah, mak nyussss….hati ini terasa sejuk sekali. Kurang lebih inilah yang kudapat dari beliau:
Dalam dakwah, Allah pasti akan selalu memberikan masalah/ujian. Kenapa? Untuk membedakan diantara hambaNya mana orang yang bertaqwa dan mana orang munafik. Karena orang mukmin dan orang munafik akan selalu bersama-sama, sehingga tak tampak pembeda diantara mereka. Tujuan orang munafik bukanlah Allah SWT, sehingga ujian kecil saja akan membuat mereka berpaling dari Allah, berbeda dengan orang mukmin. tujuan orang mukmin hanya satu; ridha Allah SWT. Maka untuk membedakan mereka, Allah akan terus membuat ujian-ujian sehingga tampak jelaslah mana orang munafik diantara orang mukmin. Orang islam sendiri dalam derajat keimanannya dibagi tiga seperti dalam QS. Al Fatir: 32
“kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami. Diantara mereka ada yang mendzalimi diri sendiri, pertengahan, dan ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar”
Orang Islam yang mendzalimi diri sendiri salah satu contohnya adalah kerabat Abu Bakar As-Sidiq. Ia miskin dan hidupnya ditanggung oleh Abu Bakar. Namun, suatu hari ia membuat fitnah pada Aisyah. Setelah kejadian itu Abu Bakar bersumpah tak akan lagi membantu kerabatnya tersebut. Lalu Allah menegur Abu Bakar. Jangan sampai kesalahan orang menghalangimu membantu orang itu. Maafkanlah kesalahan orang lain dan berharaplah Allah memaafkan kesalahanmu dengan cara banyak membaca AlQuran.
Orang pertengahan kisahnya seperti ini: Ada orang yang sering bertanya pada Rasul tentang masalah-masalah keimanan seperti “apakah Allah itu ahad?” “benarkah kamu Rasulullah” sering sekali ia bertanya. Namun setelah bertanya ia pergi begitu saja. Lalu Rasul berkata, “akan lebih baik kalau ia melaksanakan apa yang ia tanyakan”. Orang pertengahan seringkali merasa cukup dengan ibadah-ibadah wajib saja (pas mendengar ini Plaaak!rasanya aku seperti ditampar, abis beberapa bulan ini aku begitu sih…). Tak mau memperkaya tabungannya dengan yang sunnah.
Orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan adalah orang yang senang bersegera berbuat kebaikan. Ga pake mikir boro-boro sekali. Ada panggilan kebaikan, bles langsung jalan. Tipe ini banyak sekali di antara sahabat Rasul. Seperti Abu Bakar yang menyedekahkan seluruh hartanya dijalan Allah. Atau para shahabiah yang langsung menyobek taplak, korden atau kain apapun untuk segera berhijab ketika perintah jilbab turun. Sekali lagi, ga pake mikir. Lha kita…kita masuk kemana ya??
Kalau aku, sepertinya tak perlu menjawab, aku sudah tau jawabannya. Pe-erku masih banyak sekali. Alhamdulillah Allah bukakan mataku dengan banyak kejadian belakangan ini. Dan Alhamdulillah juga Allah langsung berikan jawabannya padaku (paling tidak inilah tafsirku atas ujian Allah kepadaku) sedikit demi sedikit aku coba berlapang dada dengan ujian-ujian ini. Hidupku bukannya berakhir, tapi baru mulai. Aku lulus atau ngga ujian Allah akan menentukan nasibku diakhirat nanti. Aku istiqomah atau malah berpaling dari Allah. Semua ini adalah proses yang harus kutapaki sedikit demi sedikit sambil berharap pertemuan dengan Allah nanti dengan selamat.
oia, tentang adik-adik binaan di SMA, disaat aku hampir putus asa karena sudah lama tak mengadakan pertemuan dengan mereka, iseng-iseng aku sms bunyinya doa pengingatan bahwa sekarang sudah masuk bulan Rajab dan sebentar lagi menyongsong Ramadhan. Alhamdulillah mereka langsung menanggapi. Ada yang langsung menanyakan kapan pertemuan berikutnya, ada yang langsung curhat, ada yang kemudian merasakan gerimis menyirami hatinya lagi…oh ya Allah…ujianmu begitu nikmat rasanya. Maka yang ada hanyalah: Laa Tahzan, Innallaha ma’ ana…
Memang ada saat-saat sebelum semua ini terjadi, aku seakan-akan melupakan nikmat yang Allah berikan padaku. Indikasinya jelas, ibadahku menurun. Secara kualitas maupun kuantitas. Shalat Sunnah Rawatib sudah jarang sekali kulakukan. Dulu saat hamil, alasannya berat, payah. Untuk shalat wajib saja aku sudah terengah-engah. Lalu kini, setelah Allah anugrahkan padaku karunia amat besar bernama Asma Izzatunnisa, masih ada lagi alasannya. Tak sempat, sibuk, tak ada waktu, selesai shalat wajib sudah harus kembali beraktivitas, atau baru selesai salam Asma menangis minta susu. Tilawah, turun drastis. Benar-benar payah. Aku punya prinsip Allah senang kontinyuitas. Sedikit tak apa asal rutin. Lha sekarang, sudah sedikit tak rutin pula. bolong-bolong. Target 1 juz sehari hanya angan2, terbang dibuai kesibukan semu. Shalat dhuha, puasa sunnah. sama saja pontennya, merah. shalat malam, masih lumayan karena Asma sering bangun tengah malam hingga dini hari. Hapalan Al Quran…hmmm ini lagi. Menghapal iya, tapi kemudian berceceran kembali dijalan dakwah. Hilang. Belum lagi amanahku membina anak-anak keputrian disebuah sekolah. Sempat terlintas rasa lelah, ingin melepas mereka agar dipegang oleh akhwat lain. Kesibukanku mengurus bayi dan waktu yang tak termanage dengan baik telah menjadi fitnah. Alhasil hampir sebulan tidak ada pertemuan.
Aku tak layak menggugat Allah yang memberikan banyak ujian padaku. Bahkan tak layak bertanya “kenapa ini terjadi padaku?” Aku memang layak menerimanya. Dan Allah memang Maha Pengasih dan Penyayang. Sehabis ia tunjukkan kesalahanku, ia besarkan hatiku kembali. Tak lama setelah masa-masa “meratap kenapa semua ini terjadi”, aku mengaji pekanan seperti biasa. Ketika mengaji, ustadzahku baru saja mengikuti ceramah yang diisi oleh seorang ustadz dari Timur Tengah. Ummiku mentransfer materi yang ia dapat pada kami. Subhanallah, mak nyussss….hati ini terasa sejuk sekali. Kurang lebih inilah yang kudapat dari beliau:
Dalam dakwah, Allah pasti akan selalu memberikan masalah/ujian. Kenapa? Untuk membedakan diantara hambaNya mana orang yang bertaqwa dan mana orang munafik. Karena orang mukmin dan orang munafik akan selalu bersama-sama, sehingga tak tampak pembeda diantara mereka. Tujuan orang munafik bukanlah Allah SWT, sehingga ujian kecil saja akan membuat mereka berpaling dari Allah, berbeda dengan orang mukmin. tujuan orang mukmin hanya satu; ridha Allah SWT. Maka untuk membedakan mereka, Allah akan terus membuat ujian-ujian sehingga tampak jelaslah mana orang munafik diantara orang mukmin. Orang islam sendiri dalam derajat keimanannya dibagi tiga seperti dalam QS. Al Fatir: 32
“kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami. Diantara mereka ada yang mendzalimi diri sendiri, pertengahan, dan ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar”
Orang Islam yang mendzalimi diri sendiri salah satu contohnya adalah kerabat Abu Bakar As-Sidiq. Ia miskin dan hidupnya ditanggung oleh Abu Bakar. Namun, suatu hari ia membuat fitnah pada Aisyah. Setelah kejadian itu Abu Bakar bersumpah tak akan lagi membantu kerabatnya tersebut. Lalu Allah menegur Abu Bakar. Jangan sampai kesalahan orang menghalangimu membantu orang itu. Maafkanlah kesalahan orang lain dan berharaplah Allah memaafkan kesalahanmu dengan cara banyak membaca AlQuran.
Orang pertengahan kisahnya seperti ini: Ada orang yang sering bertanya pada Rasul tentang masalah-masalah keimanan seperti “apakah Allah itu ahad?” “benarkah kamu Rasulullah” sering sekali ia bertanya. Namun setelah bertanya ia pergi begitu saja. Lalu Rasul berkata, “akan lebih baik kalau ia melaksanakan apa yang ia tanyakan”. Orang pertengahan seringkali merasa cukup dengan ibadah-ibadah wajib saja (pas mendengar ini Plaaak!rasanya aku seperti ditampar, abis beberapa bulan ini aku begitu sih…). Tak mau memperkaya tabungannya dengan yang sunnah.
Orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan adalah orang yang senang bersegera berbuat kebaikan. Ga pake mikir boro-boro sekali. Ada panggilan kebaikan, bles langsung jalan. Tipe ini banyak sekali di antara sahabat Rasul. Seperti Abu Bakar yang menyedekahkan seluruh hartanya dijalan Allah. Atau para shahabiah yang langsung menyobek taplak, korden atau kain apapun untuk segera berhijab ketika perintah jilbab turun. Sekali lagi, ga pake mikir. Lha kita…kita masuk kemana ya??
Kalau aku, sepertinya tak perlu menjawab, aku sudah tau jawabannya. Pe-erku masih banyak sekali. Alhamdulillah Allah bukakan mataku dengan banyak kejadian belakangan ini. Dan Alhamdulillah juga Allah langsung berikan jawabannya padaku (paling tidak inilah tafsirku atas ujian Allah kepadaku) sedikit demi sedikit aku coba berlapang dada dengan ujian-ujian ini. Hidupku bukannya berakhir, tapi baru mulai. Aku lulus atau ngga ujian Allah akan menentukan nasibku diakhirat nanti. Aku istiqomah atau malah berpaling dari Allah. Semua ini adalah proses yang harus kutapaki sedikit demi sedikit sambil berharap pertemuan dengan Allah nanti dengan selamat.
oia, tentang adik-adik binaan di SMA, disaat aku hampir putus asa karena sudah lama tak mengadakan pertemuan dengan mereka, iseng-iseng aku sms bunyinya doa pengingatan bahwa sekarang sudah masuk bulan Rajab dan sebentar lagi menyongsong Ramadhan. Alhamdulillah mereka langsung menanggapi. Ada yang langsung menanyakan kapan pertemuan berikutnya, ada yang langsung curhat, ada yang kemudian merasakan gerimis menyirami hatinya lagi…oh ya Allah…ujianmu begitu nikmat rasanya. Maka yang ada hanyalah: Laa Tahzan, Innallaha ma’ ana…
Kamis, 26 Februari 2009
BAYI-BAYI ITU...
Beberapa hari ini, sudah sejak lama sebenarnya, aku sering menemui berita mengenaskan tentang bayi. Banyak, terlalu banyak malahan cerita pahit tentang bayi yang dibuang (Alhamdulillah masih ada yang ditemukan dalam keadaan hidup), dicekik tali sepatu, ada yang dibandul dengan batu lalu dibuang ke ciliwung, ada yang dipaksa minum racun, ada ribuan janin yang diaborsi, ada yang ditemukan dalam bagasi pesawat, ada yang disimpan dibawah ranjang tempat tidur hingga jadi rangka sampai-sampai susah untuk dikenali jenis kelaminnya. Astaghfirullah…ahhh.. aku bahkan tak mau memikirkannya. Perasaanku ini mungkin sama dengan wanita-wanita lain yang merasakan kepedihan yang sama menatap fenomena itu diluar sana. Yang jelas tak akan sama dengan mereka yang melakukan itu pada bayi2 mereka. Naudzubillahi min Dazalik. Jangan sampai aku punya 0,0000001 % saja sifat seperti orang-orang itu. Banyaknya makhluk lemah itu teraniaya. Aku bahkan tak mau memikirkan seperti apa rupa ibu mereka yang tega melakukan itu, seperti apa sempitnya pikiran mereka? Betapa kelamnya hati mereka, mungkin gelap seperti dasar lautan yang tak tersentuh cahaya keimanan. Pedih…aku menangis untuk mereka, bayi-bayi mungil itu dan berdoa untuk kebaikan yang akan mereka dapatkan dalam kehidupan yang sesungguhnya diakhirat, karena mereka tak diterima disini. Ingin rasanya aku mendoakan keburukan bagi orangtuanya, tapi Allah melarangku berdoa yang buruk. Semoga Allah memberi mereka hidayah, agar mereka dapat menyesali perbuatannya. Ada yang bilang, janganlah menghakimi dulu, siapa tahu ibu bayi-bayi itu sendiri adalah korban, korban keadaan ekonomi yang menghimpit, maka orang yang paling bertanggung jawab adalah pemerintah yang tak bisa memberi kehidupan bagi rakyatnya. Mungkin korban pemerkosaan, maka yang paling berdosa adalah pemerkosanya. Bagiku, apapun, mereka memang korban, mereka adalah korban kebodohan dan kedangkalan hati sehingga menjadikan bayi-bayi mereka sebagai tumbal kebodohan mereka. Aku pikir aku tak perlu bersimpati pada orang-orang itu, orang-orang yang karena mereka lebih kuat lalu semena-mena pada kelemahan bayinya. Seandainya bayi-bayi itu mampu melawan, ia pasti akan melawan, bila mampu bicara ia pasti akan bertanya “karena dosa apakah aku dibunuh? Dosakukah ayah / ibu menjadi orang miskin? Dosakukah ibu diperkosa lalu lahirlah aku? Dosakukah kalian penikmat seks bebas berzina lalu aku hadir ditengah kalian menghancurkan masa depan kalian yang masih panjang?”
Astaghfirullah, itu bukan dosanya! Bukan bayi-bayi itu yang harus memikul akibat perbuatan orang dewasa. Allah…Kau Maha Adil..Tetapkanlah keadilan untuk mereka. Hancur..hancur..hancur…hatiku
Selasa, 20 Januari 2009
REFLEKSI 2 TAHUN PERNIKAHAN
Bila orang (lajang) beranggapan bahwa dengan menikah adalah akhir sebuah tujuan, akhir sebuah cerita, penyelesaian segala masalah, seperti di akhir dongeng-lalu mereka hidup bahagia selama-lamanya, bisa dikatakan mereka salah. Wooo..kesannya seram sekali menikah. Yaaa..ga seseram itu sih… tapi juga ga seindah itu. Intinya itu saja. Menikah justru awal dari segalanya, awal menentukan tujuan, awal beradaptasi dengan pasangan dan keluarganya, bahkan awal dari masalah-masalah baru. Memang, sebelum menikah, yang terbayang semua yang indah-indah. Bayangan seindah surga. Kenyataannya?hmmmm…(silakan tafsirkan sendiri)
Bagaimanapun, aku sangat bersyukur telah menikah, meski kadang terlintas dipikiranku yang nakal, waah..kalau masih lajang enak nih, masih bisa begini-begini dan begitu-begitu, misalkan mau I’tikaf, mau aksi, mau kegiatan apa, tidak perlu banyak pertimbangan. Mau jalan ya jalan aja ga perlu ijin suami. Tapi, saat pikiran itu melintas, terkadang aku berpikir, bodoh juga berpikir begitu, sementara disaat yang sama, aku malah banyak mendapat kemudahan karena telah menikah, minimal jadi ada yang nganter jemput. Pada akhirnya, semua ini tentang bagaimana kita bersabar dan bersyukur.Awal menikah dulu, aku membayangkan, seperti pasangan-pasangan lain yang tak punya apa-apa diawal kehidupan rumah tangganya, maka aku bersiap-siap hidup prihatin. Dalam bayanganku, aku akan hidup di kontrakan petakan sempit, mencuci baju pakai papan gilesan, masak masakan seadanya (sebisanya, abis ga bisa masak hehehe), membawakan suami bekal makanan demi menghemat pengeluaran rumah tangga….eee, (Alhamdulillah) ternyata semua bayanganku ga ada yang terwujud. Subhanallah…
Rumah kontrakan , karena agak terburu-buru mencarinya, dapatnya malah kontrakan yang terlalu luas buat kami tinggali berdua. Sebuah rumah dengan dua kamar. Yang ada , setelah ditinggali kesannya lapaaaaaaang banget, toh kami juga ga punya perabotan rumah tangga. Jadi rumah itu benar-benar kosong melompong. Hari kedua setelah akad, tiba-tiba suamiku mengajakku ke salah satu hypermarket terdekat. Aku disuruhnya memilih mesin cuci. Sampai terbengong-bengong aku dibuatnya. Bayangan mencuci dengan papan gilesan, sikat dan tangan sangat erat melekat, tak terpikirkan akan memiliki mesin cuci secepat itu. Ternyata suamiku sangatlah pengertian dan perhatian, ia sadar pekerjaan mencuci termasuk golongan kelas berat dalam kehidupan rumah tangga, maka ia dengan segala kebesaran hati menyisihkan dana simpanan untuk beli mesin cuci. Alhamdulillah sambil berjalan, kami bisa mengumpulkan sedikit demi sedikit perabotan rumah tangga (Hingga sekarang saat kami kebagian rezeki menempati rumah petakan sempit, baru terasa…duh, sempit!!!Barang-barang kita banyak banget siiih..meski perabotan semacam kursi, sofa, meja tetap tidak masuk dalam daftar belanja kami) dan Alhamdulillah, kami selalu diberi lebih oleh Alah, meski dalam hitungan kertas tampaknya akan besar pasak daripada tiang, ujian orang tua yang sakit dan butuh biaya banyak dan sebagainya Alhamdulillah mampu kami lewati tanpa berhutang.
Sungguh, kadang-kadang aku suka bertanya pada Allah, layakkah aku menerima nikmatMu ini ya Allah? Segala kemudahan dan fasilitas. Sementara aku masih sering kurang bersyukur. Sering lalai, Sering Malas. Aku hanya berusaha mengingatkan diri dan suami terus menerus, harta adalah ujian, orang yang diberi sedikit harta sedang diuji, orang yang diberi banyak harta pun sedang diuji, semoga kami mampu melewati segala ujian, baik miskin harta ataupun banyak harta. Dan terutama berdoa, agar sedikit atau banyaknya harta kami diperoleh dengan halal & thayyib sehingga Allah ridha.
Sepanjang perjalanan rumah tangga kami, masalah keuangan memang bukan masalah utama rumah tangga kami. Yang sering menjadi masalah diantara aku dan suami justru lebih banyak masalah komunikasi. Perang dingin tak jarang pula kami alami. Syukur, kami berdua bukan orang yang suka ngomel dan adu mulut. Selama 2 tahun ini, kusadari, tipe kami sama. Kalau sedang kesal, tiba-tiba diam (ditambah dengan muka jutek, garang, sinis), lalu setelah badai dihati mereda baru bicara. Jadi tidak pakai piring,gelas,handphone terbang, tidak mengeluarkan isi kebun binatang dan masalah lebih mudah terpecahkan bila dibicarakan dengan kepala & hati yang dingin.
Awal-awal menikah aku banyak ngambek. Tiba-tiba diam, menangis, jutek. Suamiku bingung. Saat aku diam begitu, dia selalu memaksa aku bicara. Dia paling ga tahan aku bersikap diam begitu. Padahal aku diam untuk mendinginkan hati dan kepala. Setelah dingin, aku pasti akan bicara, “tadi itu begini-begini…” “Aku ga sreg kalau mas begitu-begitu…” Diawal pernikahan saat aku “kambuh” begitu, suami kadang ikut emosi. Ikutan “ngambek”, dia frustasi karena aku diam saja. Yang dia inginkan aku membicarakan apa yang sedang terjadi, kenapa aku tiba-tiba diam. Sesungguhnya, aku benar-benar ga sanggup bicara kalau sedang emosi. Jadi lebih baik diam. Kalau suamiku cenderung terus terang, jadi ia lebih sering langsung bicara saat sedang merasa tidak enak hati dengan apa yang kulakukan. Akhir-akhir ini entah ketularan atau apa, suamiku juga sering diam saat sedang emosi. Dan aku gantian, mengorek-ngorek dia untuk bicara. Yang jelas, Alhamdulillah kami jarang bertengkar mulut, ngotot-ngototan mempertahankan pendapat. Sejak awal, kami membiasakan saling minta maaf meskipun bukan sebagai pihak yang salah. Minimal, minta maaf telah membuat pasangan merasa tidak nyaman dengan perbuatan kita, meski kadang kita tidak sadar telah melakukan kesalahan. Semoga kebiasaan saling meminta maaf ini bisa lestari selama-lamanya. Sekarang-sekarang ini, setelah begitu banyak perang dingin yang kami alami, kami merasa sudah lebih dewasa dalam memecahkan masalah. Setelah semua yang terjadi, sering kali perang dingin disebabkan kesalah pahaman. Setelah dibicarakan ternyata ada kesalahpahaman ditengah-tengah kami. Saya inginnya A, suami inginnya B. Ga nyambung lalu perang dingin. Sejujurnya dalam banyak hal, kadang aku sadar, sepertinya aku yang kurang dewasa dan suami yang lebih pengertian. Kadang, aku yang kurang bisa mengkomunikasikan keinginanku, lalu sebel sendiri, lalu emosi. Diam. Akhir-akhir ini aku merasa seperti itu. Padahal seandainya itu dibicarakan, bisa saja selesai tanpa pakai protokoler ngambek terlebih dahulu. Aku hanya bisa berdoa semoga saja suamiku bisa terus bersabar menghadapi aku.
Satu hal lagi, yang sangat kutekankan pada diriku sendiri, mengalah. Kadang saat menghadapi masalah, sikap mengalah sangat membantu. Meski kadang ada syaithan yang menyanyikan sebuah lagu yang dinyanyikan band seventeen di telingaku “Mengapa selalu aku yang mengalah….?” Tapi ya…ngga juga sih..kadang karena keegoisan kita, kita selalu merasa kita terus yang mengalah. Padahal, dalam banyak hal yang ga kita sadari, mungkin pasangan kita juga banyak mengalah. Jadi selama memang mengalah bisa meminimalisir masalah, ya lakukan saja. Itu salah satu cabang bersabar dalam kaidah bersabar dan bersyukur yang aku anut dalam rumah tangga ini.
Hari ini dalam kalender Hijriyah, pas 2 tahun sudah pernikahan kami.
Mengenang masa dua tahun yang lampau, banyak kisah yang kami alami. Kisah lucu masa adaptasi kami berdua, adaptasi kami dengan keluarga masing-masing, kisah sedih saat kepercayaan diantara kami berdua sedang diuji, kisah bahagia dengan kehadiran buah hati kami Asma Izzatunnisa dan menyusul calon adiknya didalam rahim, hidup bertetangga dilingkungan yang tak kondusif, tentu akan lebih banyak kisah yang kami alami nanti, hanya satu harapanku, semoga semua kisah itu, baik senang, sedih, duka tawa, senantiasa berbalut ridha Allah dan kesadaran untuk mencapai tujuan hakiki pernikahan ini karena Allah. Sehingga nantinya kami sekeluarga dapat berkumpul di Jannah-Nya dan dijauhkan dari api neraka.
Wallahu’alam
23 Muharram 1430 H
Langganan:
Postingan (Atom)

